Kesalahan Umum Pekerja Indonesia Saat Daftar Kerja ke Jepang

Kesalahan Umum Pekerja Indonesia Saat Daftar Kerja ke Jepang

Banyak orang bermimpi kerja di Jepang. Gajinya kelihatan menarik, sistemnya rapi, dan ceritanya sering terdengar “naik level hidup”. Tapi di balik cerita sukses, ada banyak kisah yang berhenti di tengah jalan. Bukan karena kurang niat. Bukan juga karena tidak mampu. Sering kali, karena salah langkah sejak awal.

Kami beberapa kali ngobrol dengan calon pekerja yang sebenarnya sudah siap mental dan fisik. Tapi tersandung hal-hal sepele. Ada yang gagal di seleksi, ada yang nyaris berangkat lalu batal, ada juga yang sudah sampai Jepang tapi cepat pulang. Polanya berulang. Dan kesalahannya… itu-itu saja.

Menganggap Kerja ke Jepang Itu Bisa Instan

Terlalu Percaya Janji “Berangkat Cepat”

Ini kesalahan paling sering. Ada yang tergiur janji “tanpa tes”, “tanpa belajar bahasa”, atau “langsung kerja”. Kedengarannya manis. Tapi Jepang bukan negara yang main instan.

Proses resmi pasti melibatkan:

  • Tes bahasa
  • Tes skill
  • Seleksi perusahaan
  • Administrasi ketat

Kalau ada yang menghapus semua proses itu, biasanya masalahnya muncul belakangan.

Salah Pilih Jalur Kerja ke Jepang

Tidak Paham Perbedaan Magang dan Kerja

Masih banyak yang menyamakan semua jalur sebagai “kerja ke Jepang”. Padahal beda jalur, beda hak, beda tuntutan.

Akibatnya:

  • Ekspektasi tidak sesuai realita
  • Kaget dengan sistem kerja
  • Mental drop di tahun pertama

Memahami jalur sejak awal itu bukan formalitas, tapi fondasi.

Bahasa Jepang Diremehkan Sejak Awal

Banyak yang berpikir, “Nanti di Jepang juga bisa belajar.” Faktanya, bahasa Jepang itu alat bertahan hidup. Bukan cuma buat kerja, tapi buat:

  • Ngerti instruksi
  • Hindari konflik
  • Bertanya saat darurat

Kami sering dengar cerita orang yang skill-nya bagus, tapi kesulitan karena miskomunikasi. Dan itu capek secara mental.

Fokus ke Gaji, Lupa Kesiapan Mental

Jepang itu rapi, aman, dan tertib. Tapi juga sepi. Kerja pulang, masak sendiri, jarang ngobrol. Buat yang mentalnya belum siap, ini berat.

Kesalahan umum:

  • Mengira hidup seperti liburan
  • Kaget dengan disiplin tinggi
  • Tidak siap jauh dari keluarga

Kerja ke Jepang itu perubahan hidup, bukan sekadar pindah lokasi kerja.

Tidak Riset Perusahaan dan Bidang Kerja

Ini sering terjadi karena keinginan cepat berangkat. Padahal tiap bidang punya ritme dan tekanan berbeda.

Contoh:

  • Restoran → fisik dan jam kerja
  • Manufaktur → ritme cepat dan presisi
  • Perawatan lansia → mental dan empati tinggi

Salah pilih bidang bisa bikin kamu cepat lelah, bahkan sebelum kontrak selesai.

Dokumen Dianggap Formalitas Belaka

Kesalahan kecil di dokumen bisa berakibat besar. Salah tanggal, format tidak sesuai, atau dokumen tidak valid bisa menggagalkan proses.

Tips realistis:

  • Cek ulang sebelum dikumpulkan
  • Jangan mepet deadline
  • Simpan salinan semua dokumen

Hal sepele ini sering jadi pembeda antara lanjut dan berhenti.

Terlalu Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Ada yang langsung minder karena lihat orang lain “lebih cepat”, “lebih pintar”, atau “lebih hoki”. Padahal tiap orang punya jalur dan timing sendiri.

Yang sering gagal bukan yang lambat, tapi yang berhenti karena merasa tertinggal.

Tidak Bertanya ke yang Sudah Pernah Berangkat

Banyak kesalahan bisa dihindari kalau mau tanya ke orang yang sudah pernah jalan prosesnya. Tapi sayangnya, banyak yang merasa sungkan atau sok bisa sendiri.

Padahal satu obrolan bisa menghemat berbulan-bulan salah langkah.

Pertama, kerja ke Jepang itu bukan soal nekat, tapi soal siap. Banyak pekerja Indonesia sebenarnya punya potensi besar, tapi terhambat karena kesalahan yang seharusnya bisa dihindari sejak awal.

Kedua, sistem Jepang itu adil tapi tegas. Kalau kamu paham aturannya, peluangnya terbuka. Kalau asal jalan, risikonya besar. Memahami jalur, bahasa, dan kesiapan mental jauh lebih penting daripada sekadar cepat berangkat.

Terakhir, jangan buru-buru. Yang paling sering berhasil bukan yang paling cepat, tapi yang paling rapi persiapannya. Kerja ke Jepang itu maraton, bukan sprint.

Tinggalkan Komentar