Sebelum Liburan ke Jepang!

Sebelum Liburan ke Jepang!

Sebelum Liburan ke jepang

Kamu Harus Tahu 5 Larangan ini

Siapa sih yang tidak tahu Jepang? Negara yang berjuluk Negeri Sakura ini adalah salah satu negara yang paling diminiati untuk menghabiskan waktu liburan. Bukan tanpa alasan, Jepang memang memiliki kebudayaan, kuliner, dan segudang destinasi wisata yang mampu memanjakan mata. Maka tak heran, banyak orang yang sangat ingin berkunjung ke sana.

Apakah kamu juga? Kalau benar, sebaiknya kamu belajar tentang budaya Jepang dulu karena ada beberapa hal yang tidak boleh kamu lakukan di sana. Apa saja hal-hal yang dilarang di Jepang? Berikut diantaranya.

1.  Tidak Boleh Memetik Bunga Sakura

Bunga Sakura adalah simbol khas dari Jepang.  Kebun bunga merah muda ini adalah salah satu tujuan wisata yang paling diminati. Tapi, saat kamu di kebun sakura, tidak boleh sembarang metik karena bisa kena teguran bahkan sanksi. Hal tersebut dikarenakan bunga sakura adalah bunga istimewa yang berumur pendek dan tumbuh saat musim tertentu saja.

2.  Menjaga Kebersihan

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menjaga kebersihan. Jadi, ketika kamu berkunjung ke sana, usahakan untuk menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Sebab, kalau sampai ketahuan, kamu akan mendapat teguran keras oleh pihak berwenang di sana.

3.  Berbicara Lantang di Tempat Umum

Selain terkenal dengan kebersihan, Jepang juga terkenal akan etika dan tata krama masyarakatnya. Ketika kamu sedang berada di tempat umum, jangan sampai kamu berbicara terlalu lantang, misalnya saat menelpon. Orang Jepang menganggap hal tersebut kurang sopan karena bisa mengganggu kenyamanan orang lain.

4.  Jangan Duduk di Kursi Prioritas

Saat kamu menggunakan alat transportasi, pastikan kamu duduk di tempat umum, bukan kursi prioritas. Sebab, kursi prioritas ditujukan untuk manula, ibu hamil, dan orang sakit. Kesadaran orang Jepang sangatlah tinggi sehingga sangat menghargai aturan.

5.  Tidak Mengantre

Warga Jepang terkenal sangat disiplin untuk urusan antre. Mereka tidak suka jika ada orang yang suka menyalip antrean. Misalnya kamu sedang menunggu kereta atau bis, maka kamu harus bersabar sampai antreanmu tiba. Jangan menyelat karena kamu akan dianggap tidak sopan, apapun alasannya.

Nah, itulah beberapa hal yang tidak boleh kamu lakukan ketika berkunjung ke Jepang. Ingat, setiap tempat memiliki aturan dan budaya masing-masing sehingga kamu tidak bisa menyamakannya dengan negara kita.

Kenapa Jepang Disebut Sebagai Negara Tanpa Sampah?

Kenapa Jepang Disebut Sebagai Negara Tanpa Sampah?

Jepang adalah salah satu negara maju yang menjadi percontohan bagi negara-negara berkembang di seluruh belahan dunia. Selain karena berhasil mengembangkan teknologi yang mampu mengubah dunia, Jepang juga disebut sebagai salah satu negara yang masyarakatnya sangat disiplin dalam segala hal, termasuk untuk menjaga kebersihan.

Bukan rahasia lagi jika hampir semua warga Jepang memiliki disiplin tinggi dalam kebersihan. Bahkan, Jepang juga sering dijuluki sebagai negara tanpa sampah. Hebatnya lagi, ada sebuah kota bernama Kamikatsu yang diklaim sebagai kota bersih dengan nol sampah karena masyarakat setempat sadar betul bahwa kebersihan adalah hal yang tidak bisa ditawar.

Negara Tanpa Sampah

Lantas, apa yang menyebabkan masyarakat Jepang begitu peduli dengan kebersihan kota dan negaranya?

Telisik punya telisik, alasan Jepang terbebas dari sampah adalah karena kepercayaan yang mereka anut. Ya, seperti diketahui, Jepang adalah negara yang mayoritas masyarakatnya adalah beragama Shinto. Dalam ajarannya, agama Shinto mengajarkan bahwa kebersihan adalah salah satu cara mendekatkan diri pada Tuhan.

Hal tersebut juga disimbolkan oleh Onusa, sebuah alat ritual berupa tongkat yang diberi kertas putih yang menyerupai kemoceng. Kebersihan dan kesucian adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karenanya, tak heran jika pemeluknya memberikan pengaruh besar bagi kebersihan Jepang.

Selain itu, ada faktor lain yang menyebabkan Jepang selalu nampak bersih, yakni pola pendidikan yang diterapkan. Sejak dini, anak-anak di Jepang selalu dibiasakan untuk selalu menjaga kebersihan dengan serangkaian aktivitas bersih-bersih lingkungan. Budaya bersih ini dipupuk sedari mereka masih usia belia sehingga sampai dewasa kebiasaan bersih itu masih melekat dalam diri dan diajarkan pada generasi selanjutnya.

Saat sedang piknik pun, masing-masing keluarga menyiapkan kantong plastik sendiri untuk menaruh sampah mereka. Kesadaran masyarakat Jepang ini diklaim sebagai salah satu alasan yang menjadikan Jepang sebagai negara maju.

Lebih dari itu, pemerintah setempat juga sangat memfasilitasi masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan. Di sudut-sudut jalan, terdapat beberapa tempat sampah yang terbagi dalam beberapa kategori sehingga sampah-sampah tidak tercampur agar lebih mudah untuk didaur ulang.

Nah, itulah rahasia kenapa Jepang sangat bersih. Tak lain karena budaya bersih yang layak diacungi jempol dan patut dijadikan percontohan bagi negara-negara lainnya.

Mengenal Manfaat Shinrin yoku

Mengenal Manfaat Shinrin yoku

Shinrin-yoku secara harfiah dapat diartikan sebagai forest bathing atau bermandikan hutan alami. Praktik ini muncul dari kebiasaan masyarakat Jepang berjalan-jalan di hutan sebagai cara untuk mengurangi stress.

Bermula pada sekitar tahun 1980-an, tanda-tanda stress di tengah masyarakat Jepang mulai teridentifikasi. Stress ini timbul sebagai dampak urbanisasi besar-besaran, di mana urbanisasi ini dilakukan masyarakat untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Stress yang diderita masyarakat perkotaan ini mendorong timbulnya berbagai macam penyakit. Di Jepang sendiri kota-kota terpadatnya bisa kita temui di Tokyo, Osaka dan Nagoya.

Kemudian pada tahun 1982, konsep shinrin-yoku pertama kali dicetuskan oleh Badan Kehutanan Jepang. Konsep ini lahir sebagai langkah preventif munculnya stress pada masyarakat perkotaan. Semenjak itulah, banyak peneliti di berbagai institusi dunia yang juga melakukan riset terkait. Hasilnya, penelitian-penelitian itu membeberkan berbagai manfaat yang bisa kita dapatkan dari forest bathing atau shinrin-yoku.

Kegiatan Shinrin yoku

Salah satu tempat yang bisa kita kunjungi untuk melakukan shinrin-yoku adalah Hutan Akasawa, Perfektur Nagano. Dalam paket kegiatan ini, peserta akan berjalan menyusuri hutan ditemani oleh pemandu hutan. Uniknya, kita juga akan mendengar bagaimana pemandu shinrin-yoku menyenandungkan seruan-seruan kepada gunung.

Peserta akan berjalan tanpa terburu-buru, supaya bisa lebih menyerapi situasi hutan di sekitarnya. Abaikan gawai supaya konsentrasi tidak terbagi. Selanjutnya, peserta akan menyiapkan makanan sederhana dengan bahan yang dikumpulkan dari hutan.

Manfaat Shinrin Yoku Kesehatan Fisik

Dalam shinrin-yoku kita melihat hamparan pepohonan hijau di dalam hutan rasanya menenangkan. Stimulus ini akan membuat badan kita lebih rileks. Dampaknya dapat meregangkan otot-otot yang tegang pada jantung dan pembuluh darah. Lebih jauh, praktik shinrin-yoku dapat mengurangi kemungkinan terkena penyakit stroke bagi usia menengah hingga lansia.

Meningkatkan Mood

Berjalan-jalan santai dalam hutan, ditemani pemandu serta teman-teman juga bisa mempengaruhi psikologis seseorang. Perasaan akan menjadi lebih tenang, bahkan bisa berpengaruh ke kualitas tidur yang lebih baik.

Sebuah studi dilakukan oleh Yoshifumi Miyazaki, Direktur dari Pusat Pengkajian Ilmu Lingkungan Hidup Universitas Chiba, melibatkan 576 responden dalam kurun waktu percobaan tahun 2005-2006. Hasilnya, didapat data bahwa responden yang melihat ataupun menghabiskan waktu di alam selama 20 menit dalam satu hari memiliki jumlah cartisol atau hormon stres 12,7% lebih rendah daripada responden yang menghabiskan waktu terus menerus di lingkungan urban.

Melatih Panca Indra

Ketika melakukan shinrin-yoku, pastikan kamu memaksimalkan stimulus yang kamu dapatkan dari alam. Caranya dengan berlatih mengatur napas, serapi dalam-dalam udara bersih dalam hutan. Perhatikan dengan seksama deretan pohon, tetesan embun, burung yang berterbangan. Hirup dalam-dalam aroma kayu hutan, gemerisik daun dan aliran sungai yang mengalir. Dengan tindakan-tindakan sederhana tersebut, kita bisa melatih ketajaman panca indra kita.

Nikmati pula setiap kegiatan kecil yang kamu bisa lakukan di dalam hutan. Mencoba mencicipi rebusan daun teh dari kebun atau hutan yang kita jelajahi, memasak bahan makanan dari hutan dengan sederhana, dan lain sebagainya. Lakukan semuanya dengan penuh rasa syukur, sehingga kita bisa menghargai setiap momen yang ada.

Meningkatkan Kinerja Otak Kanan

Kegiatan shinrin-yoku dapat merangsang kinerja otak kanan kita. Dengan kata lain, ada kecenderungan tingkat kreativitas kita dapat meningkat. Hal ini berkaitan dengan peningkatan ketajaman panca indra kita. David Strayer, seorang professor psikologi dari University of Utah, melakukan satu percobaan terhadap 56 backpacker yang menghabiskan waktu 4 hari di alam. Hasilnya para backpacker ini mendapatkan skor 50% lebih tinggi pada tes kreativitas.

Meluruskan Pikiran

Ketenangan hutan akan membantu kita berpikir lebih jernih. Dalam kesunyian, kita bisa bermeditasi, untuk melihat ke dalam diri kita sendiri. Ini adalah saat yang tepat untuk melakukan introspeksi, serta evaluasi akan hal-hal yang telah kita lakukan. Ini juga menjadi kesempatan bagi kita untuk menenangkan diri dari kesibukan pekerjaan, riuhnya notifikasi gawai serta bising lalu lintas kota.

Dikutip dari The Huffington Post, terdapat sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Kyoto terhadap peserta shinrin-yoku. Mereka dinilai lebih rendah berkemungkinan depresi dan terlibat permusuhan setelah menghabiskan waktu di hutan dibandingkan saat mereka menjelajahi lingkungan perkotaan.

Sumber:
Pikiran Rakyat
LifeStyle

Kebiasaan Masyarakat Jepang untuk Menahan Laju Pandemi

Kebiasaan Masyarakat Jepang untuk Menahan Laju Pandemi

Jepang ikut menjadi negara yang dijangkiti virus Covid-19. Namun situasi yang kita lihat di Jepang bisa dikatakan cukup terkendali. Dikutip dari laman kompas.com, Jepang lebih dulu mengonfirmasi pasien positif Covid-19, dibandingkan Indonesia. Namun angka kematian akibat virus corona baru SARS-CoV-2 di Jepang relatif lebih rendah.

‘Ketenangan’ Jepang dalam menghadapi virus Covid-19 juga bisa kita lihat dari berbagai kebijakan publik yang diambil. Jepang hanya melakukan tes pada 0,2% dari populasinya, di mana angka ini adalah salah satu yang terendah di antara kelompok negara-negara maju. Jepang tidak melakukan lockdown ataupun karantina wilayah. Bisnis, dari restoran hingga penata rambut pun tetap buka, kendati sekolah ditutup di masa-masa awal.

Muncul berbagai spekulasi tentang bagaimana cara Jepang dalam menghadapi pandemi ini. Misalnya, spekulasi mengenai tingkat obesitas di Jepang yang rendah, sehingga angka kematian akan virus Covid-19 pun menjadi kecil. Ada pula klaim yang menyatakan bahwa penutur bahasa Jepang dikenal memancarkan lebih sedikit tetesan ketika berbicara, dibandingkan dengan penutur bahasa lain.

Secara sistem, fitur pelacakan penduduk di Jepang disebut memiliki dampak yang besar dalam pengendalian pandemi ini. Pelacakan penduduk Jepang ini bahkan sudah muncul sebelum merebaknya virus Covid-19, sebagai langkah standar pengendalian kesehatan masyarakat.

Lebih dari itu, ternyata ada kebiasaan-kebiasaan yang telah mengakar pada budaya Jepang, yang mampu menempatkan Jepang ke dalam new normal bahkan sebelum masa pandemi. Apa sajakah itu?

1. Kebiasaan Masyarakat Jepang Menjaga Jarak

Pemerintah Jepang memberikan himbauan kepada masyarakat agar menghindari keramaian, menghindari kontak fisik dekat, dan juga menghindari tempat tertutup. Nyaris tidak ada intervensi tegas oleh pemerintah terkait himbauan ini. Uniknya, himbauan ini sebenarnya telah menjadi budaya Jepang bahkan sebelum masa merebaknya virus Covid-19.

Kebiasaan masyarakat Jepang yang dimaksud adalah menghindari duduk atau berdiri terlalu berdekatan, terlebih apabila masih ada ruang yang kosong. Hal ini dikarenakan adanya anggapan bahwa berdekatan secara fisik bisa mengintervensi privasi seseorang.

2. Kebiasaan Masyarakat Jepang Mengenakan Masker

Penggunaan masker sangat membantu dalam meminimalisir transmisi virus dari satu orang ke orang lainnya. Di Jepang sendiri, normal kita lihat masyarakat yang mengenakan masker di kesehariannya, terutama di kota-kota besar.

Bahkan pada pekerjaan pelayanan publik seperti petugas pemerintahan, staf kereta api, polisi dan petugas kebersihan, mereka terbiasa untuk mengenakan masker sepanjang hari. Sedangkan pada musim dingin, anak-anak Jepang akan mengenakan masker agar tidak mengganggu orang lain ketika mereka kedinginan.

Sebelum masa pandemi, Jepang biasanya menjual 5,5 miliar masker wajah setiap tahun atau setara dengan 43 masker per orang. Ketika virus mulai menyebar, penjualan masker wajah pun meroket. Namun hal ini diantisipasi dengan pembatasan jumlah masker yang telah dijatah untuk masing-masing individu.

3. Kebiasaan Menjaga Kebersihan

Masyarakat Jepang terkenal akan kedisiplinannya dalam menjaga kebersihan. Mereka menggunakan tempat sampah hanya untuk membuang sampah atau meludah. Masyarakat Jepang juga akan melepas alas kaki ketika memasuki ruangan. Edukasi kebersihan sudah ditanamkan kepada masyarakat Jepang semenjak kanak-kanak.

4. Kebiasaan dalam Bertegur Sapa

Tegur sapa dalam masyarakat Jepang dilakukan dengan sedikit membungkukkan badan, dengan jarak yang tidak terlalu dekat dengan lawan bicaranya. Minimnya kontak fisik seperti bersalaman, berpelukan maupun mencium pipi dalam kegiatan sapa-menyapa ini sangat membantu dalam pencegahan penularan virus Covid-19.

5. Kebiasaan Mencuci Tangan

Kita tidak akan kesulitan jika ingin membersihkan tangan di ruang terbuka publik di Jepang. Terdapat sabun dan pembersih di toilet umum, pintu masuk kantor dan berbagai titik strategis lainnya. Sementara itu, masyarakat Jepang sendiri terbiasa untuk membawa tissue basah sebagai pencegahan apabila tidak menemukan tempat mencuci tangan.

Sumber:
Health Grid
Kompas
Lifestyle
Detik

Parade sejarah dari Periode Heian, “Aoi Matsuri”

Parade sejarah dari Periode Heian, “Aoi Matsuri”

Aoi Matsuri/Festival Aoi (lebih dikenal dengan Hollyhock Festival) adalah salah satu dari tiga festival besar di Kyoto, bersama dengan Gion Matsuri dan Jidai Matsuri. Aoi sendiri adalah bahasa Jepang dari daun hollyhock (daun besar dengan warna cerah), yaitu daun yang biasa digunakan oleh penduduk Kyoto selama matsuri ini. Bahkan kambang bunga hollyhock ini digambarkan juga pada kuda atau sapi yang ikut ke dalam parade. Festival Aoi, salah satu festival tahunan terbesar di Kyoto.  Aoi Matsuri adalah salah satu festival musim semi yang diadakan rutin di Kyoto setiap 1 tahun sekali, tepatnya di bulan Mei. Festival ini adalah festival kuno penuh keanggunan dengan pawai yang indah yang telah ada sejak 1000 tahun yang lalu. Puncak dari perayaan Aoi Matsuri ini adalah dengan melakukan iring-iringan atau upacara di jalan raya atau yang disebut sebagai Roto no gi. Festival ini sebuah perayaan dimana para pejabat istana diring menuju ke kuil Kamigamo dan juga kuil Shimogamo. Para pejabat nantinya akan menggunakan pakaian warna-warni untuk simbol penghormatan kepada pada kaisar atau pejabat istana pada zaman Heian. Dikatakan bahwa festival ini dimulai saat zaman Heian ketika kaum bangsawan sedang berkembang di Jepang. Sebagai penanda terjadinya hal ini di masa lalu, orang-orang memakai kostum yang indah selagi mereka mengenang momen ketika mengirim pesan Kaisar dan membawa sesajen ke kuil Shimogamo dan Kamigamo. Festival ini berlangsung di jalan-jalan di Kyoto. Sekitar 500 orang menggunakan kostum tradisional dan berpawai mengelilingi jalanan. Totalnya adalah 500 orang, 35 kuda, 4 lembu, dan 2 gerobak sapi. Rute pawai festival dimulai di Kyoto Imperial Palace, kemudian pergi ke Shimogamo Shrine, dan akhirnya berakhir di Kamigamo Shrine.

Sumber :

https://jpninfo.com/id/2516

https://www.infojepang.net/event/aoi-matsuri/

https://www.japan-guide.com/e/e3948.html

Shared by NEXS Japanese Language Center

🌟 NEXS Japanese Language Center 🌟
Kursus Bahasa Jepang di Surabaya (Kelas Regular & Private)
Kursus Bahasa Jepang Online
Studi Ke Jepang

Conversation Class Bahasa Jepang di Surabaya
Kelas Persiapan JLPT di Surabaya
Kelas Bahasa Jepang ONLINE
Konsultasi pendidikan ke Jepang di Surabaya
Jasa Penerjemahan Bahasa Jepang di Surabaya
Program Study Tour ke Jepang

Head Office NEXS Japanese Language Center:
Komplek Ruko Transmart Rungkut Blok A-25
Jl. Raya Kalirungkut No. 23 Surabaya 60293
TELEPHONE: (031)8781033
WA : 081335555002
ID LINE: nexs.center
e-mail: [email protected]
website: www.nexs.co.id

Suasana Lebaran di Jepang

Suasana Lebaran di Jepang

Di negara yang mayoritas penduduk muslim seperti Indonesia, tentu akan berbeda dengan negara yang minoritas muslim seperti di jepang. Tak akan ada bedug takbir, opor ayam sampai berbagai macam silaturahmi dari rumah ke rumah.

Dilansir dari boombastis.com, begini ternyata momen lebaran di negara jepang.

1. Gema takbir tidak terasa

Suasana riuh dan semarak di malam takbiran yang biasanya meriah, mulai dari masjid sampai takbir keliling bakal begitu terasa di Indonesia, namun hal ini tak akan di temukan di muslim jepang. Mengingat jepang adalah negara yang terkenal dengan kesunyian, akan sulit mendengar toa yang mengumandangkan adzan, bahkan alunan takbir disuarakan secara samar – samar di masjid sekitar penduduk. Di jepang lebaran bukan lah hari spesial dan bukan hari libur yang bisa dimanfaatkan untuk bersilaturahmi.

2. Silaturahmi di dengan cara sederhana

Di jepang, menjalankan sholat ied dan silahturahmi singkat usai sholat ied dilaksanakan. Kaum muslim sangat memanfaatkan waktu yang terbatas tersebut untuk meminta maaf dengan kerabat. Biasa nya meraka akan bertemu di masjid, mengingat tak begitu banyak lokasi yang diperuntukkan bagi kaum muslim melaksanakan sholat eid.

3. Jalanan tetap normal

Takkan ditemukan jalanan mancet hanya karena aktivitas orang – orang bersilaturahmi. Kenapa? Karena disana memang tidak ada tradisi mudik. Semua orang tetap pada rutinitas nya masing – masing dan hanya umat muslim saya yang merayakannya. Sehingga jalan tidak seramai dan semancet di Indonesia. Namun untuk WNI sendiri, sebenarnya ada cara mudah melipur duka tak mudik ke tanah air. Setiap tahunnya KBRI selalu melaksanakan acara rutin halal bihalal. Wisma duta  selalu melakukan open house untuk menyambut masyarakat Indonesia muslim yang tinggal di Indonesia.

🌟 NEXS Japanese Language Center 🌟
Kursus Bahasa Jepang di Surabaya (Kelas Regular & Private)
Kursus Bahasa Jepang Online
Studi Ke Jepang

Conversation Class Bahasa Jepang di Surabaya
Kelas Persiapan JLPT di Surabaya
Kelas Bahasa Jepang ONLINE
Konsultasi pendidikan ke Jepang di Surabaya
Jasa Penerjemahan Bahasa Jepang di Surabaya
Program Study Tour ke Jepang

Head Office NEXS Japanese Language Center
Komplek Ruko Transmart Rungkut Blok A-25
Jl. Raya Kalirungkut No. 23 Surabaya 60293
TELEPHONE: (031)8781033
WA : 081335555002
ID LINE: nexs.center
e-mail: [email protected]
website: www.nexs.co.id