orang berpose "ya gimana lagi"

Bagaimana jika ada budaya Jepang “Pasrah” tapi artinya bukan “menyerah”?

Dalam budaya Jepang “pasrah” bukan sekadar menyerah. Konsep ini memiliki makna mendalam yang mencerminkan penerimaan situasi dengan lapang dada dan kebijaksanaan. Ini bukan tentang kelemahan atau kegagalan melainkan tentang kekuatan untuk menghadapi kenyataan dengan tenang dan tegar.

Pasrah dalam konteks ini adalah sebuah perjalanan menuju pemahaman yang lebih dalam. Di mana seseorang memilih untuk meresapi keadaan dengan penuh arti bukan sebagai bentuk kekalahan melainkan sebagai langkah untuk menemukan solusi dan mencapai tujuan dengan cara yang lebih positif dan konstruktif.

Apa itu Shoganai?

“Shoganai” (しょうがない) adalah istilah Jepang yang sering diterjemahkan sebagai “tidak bisa dihindari” atau “tidak ada yang bisa dilakukan”. Istilah ini mencerminkan sikap menerima atau melepaskan keadaan yang tidak dapat diubah atau dihindari dengan rasa pasrah dan ketenangan. Dalam budaya Jepang, “shoganai” mencerminkan filosofi yang mengajarkan untuk menerima situasi yang tidak ideal dan beradaptasi dengan kondisi yang ada.

Ini bukan berarti menyerah atau berhenti berusaha tetapi lebih kepada memahami bahwa ada hal-hal yang di luar kendali kita dan bahwa berfokus pada hal-hal yang dapat diubah adalah cara yang lebih konstruktif untuk menghadapi tantangan. Penggunaan “shoganai” sering terlihat dalam situasi di mana seseorang menghadapi kesulitan atau ketidaknyamanan yang tidak bisa dihindari, dan memilih untuk menerima situasi tersebut dengan sikap positif.

Apa itu shikatanai?

“Shikatanai” (仕方ない) adalah istilah Jepang yang mirip dengan “shoganai” dan sering diterjemahkan sebagai “tidak bisa dihindari” atau “tidak ada pilihan lain”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan situasi di mana seseorang menerima keadaan yang tidak ideal atau tidak dapat diubah karena tidak ada alternatif lain yang lebih baik.

“Shikatanai” mencerminkan sikap yang pragmatis dan realistis terhadap situasi yang sulit, di mana seseorang menyadari bahwa melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan tidaklah mungkin atau tidak efektif. Ini adalah cara untuk menunjukkan penerimaan dan kesediaan untuk menghadapi kondisi yang ada tanpa banyak protes. Penggunaan “shikatanai” sering kali ditemukan dalam konteks di mana seseorang harus membuat keputusan atau beradaptasi dengan situasi yang tidak dapat dihindari dan menghadapinya dengan sikap yang tenang dan penuh penerimaan.

Perbedaan dan persamaan shoganai dan shikatanai

“Shoganai” dan “shikatanai” adalah dua istilah dalam bahasa Jepang yang sering digunakan untuk menggambarkan sikap terhadap situasi yang tidak dapat diubah, namun masing-masing memiliki nuansa yang sedikit berbeda. “Shoganai” (しょうがない) biasanya diterjemahkan sebagai “tidak bisa dihindari” dan mencerminkan penerimaan terhadap keadaan yang tidak ideal dengan rasa pasrah dan ketenangan. Istilah ini sering digunakan ketika seseorang menghadapi situasi yang di luar kendali mereka dan memilih untuk menerima kondisi tersebut dengan lapang dada, bukan sebagai bentuk kekalahan tetapi sebagai cara untuk beradaptasi dan melanjutkan hidup.

Sementara itu, “shikatanai” (仕方ない) memiliki arti serupa yaitu “tidak bisa dihindari” atau “tidak ada pilihan lain” tetapi sering kali lebih menekankan pada keputusasaan atau kurangnya alternatif. Istilah ini digunakan ketika seseorang mengakui bahwa tidak ada cara lain untuk mengatasi masalah atau situasi yang ada dan keputusan untuk menerima keadaan tersebut adalah satu-satunya pilihan yang realistis. Persamaan utama antara keduanya adalah bahwa keduanya mencerminkan sikap penerimaan terhadap situasi yang tidak dapat diubah.

Perbedaannya terletak pada nuansa yang dibawa oleh masing-masing istilah: “shoganai” sering kali lebih terkait dengan sikap tenang dan pasrah, sementara “shikatanai” lebih menekankan pada keterbatasan pilihan dan keputusasaan yang mungkin dirasakan seseorang.

Kapan kedua kata itu dipakai?

“Shoganai” dan “shikatanai” adalah dua istilah dalam bahasa Jepang yang digunakan untuk menggambarkan penerimaan terhadap situasi yang tidak dapat diubah namun mereka dipakai dalam konteks yang sedikit berbeda. “Shoganai” (しょうがない) sering dipilih ketika seseorang menghadapi keadaan yang tidak ideal dan memilih untuk menerima situasi tersebut dengan sikap pasrah dan tenang.

Istilah ini mencerminkan sikap yang lebih santai dan positif, serta sering digunakan dalam situasi di mana seseorang menyadari bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah keadaan dan memilih untuk beradaptasi dengan kondisi tersebut. Sebagai contoh, jika sebuah acara luar ruangan harus dibatalkan karena hujan deras, seseorang mungkin berkata, “Cuacanya memang buruk, tapi shoganai,” menunjukkan penerimaan terhadap situasi dengan lapang dada. 

Di sisi lain, “shikatanai” (仕方ない) digunakan ketika seseorang merasa bahwa tidak ada pilihan lain atau solusi untuk mengatasi masalah atau situasi yang ada. Istilah ini lebih menekankan pada keputusasaan atau keterbatasan pilihans ering kali dalam konteks di mana seseorang mengakui bahwa keputusan harus diterima karena tidak ada alternatif lain.

Misalnya, jika perusahaan menetapkan kebijakan baru yang tidak disukai karyawan tetapi harus dipatuhi, seseorang mungkin berkata, “Kebijakan ini memang tidak ideal, tapi shikatanai,” menunjukkan penerimaan terhadap keputusan tersebut dengan pemahaman bahwa tidak ada pilihan lain yang tersedia. Secara keseluruhan, meskipun kedua istilah ini menggambarkan penerimaan terhadap keadaan yang tidak dapat diubah, “shoganai” cenderung lebih positif dan tenang sedangkan “shikatanai” lebih fokus pada keterbatasan pilihan dan keputusasaan.

Budaya Shoganai dan shikatanai bagi orang Jepang

Dalam budaya Jepang, “shoganai” dan “shikatanai” adalah dua konsep yang berkaitan dengan cara orang Jepang menerima kenyataan yang tidak bisa diubah dengan sikap lapang dada meskipun keduanya memiliki nuansa yang berbeda. Kedua konsep ini mencerminkan nilai-nilai pragmatis dalam budaya Jepang, di mana ada penekanan pada penerimaan dan adaptasi terhadap keadaan yang tidak dapat diubah.

Shoganai dan shikatanai tidak selalu memiliki makna negatif; kadang-kadang, keduanya juga digunakan untuk menunjukkan sikap yang santai atau rasa terima kasih atas apa yang ada. Memahami konteks dan penggunaan kedua istilah ini penting untuk mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang budaya Jepang dan sikap mereka terhadap tantangan dan ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan

Dalam budaya Jepang, “shoganai” (しょうがない) dan “shikatanai”  (仕方ない) adalah dua istilah yang sering diterjemahkan sebagai “tidak bisa dihindari” atau “tidak ada yang bisa dilakukan” hal ini mencerminkan sikap menerima keadaan yang tidak dapat diubah dengan lapang dada. Kedua istilah ini memiliki kesamaan dalam menekankan penerimaan dan pragmatisme serta menunjukkan sikap tenang dalam menghadapi situasi sulit.

Namun, perbedaannya terletak pada nuansa dan konteks penggunaannya: “Shoganai” biasanya lebih fokus pada penerimaan dengan sikap positif dan lapang dada dan digunakan ketika seseorang menyadari bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah keadaan. Sebaliknya, “shikatanai” menekankan keterbatasan pilihan dan keputusasaan sering dipakai ketika seseorang merasa terpaksa menerima situasi karena tidak ada alternatif lain. Memahami kedua istilah ini penting untuk memahami cara orang Jepang memandang dunia saat berkomunikasi dengan lebih baik dalam situasi sulit dan mengembangkan pola pikir yang positif dalam menghadapi tantangan hidup.

Dengan mempelajari shoganai dan shikatanai kita bisa lebih menghargai nilai-nilai budaya Jepang dan cara mereka mengatasi ketidakpastian dan kesulitan dengan sikap yang realistis dan adaptif.